Saatnya jadi judgmental: Melindungi pelajar di era AI
Forum Pelajar 2026 yang digelar pada 20 Agustus menjadi ajang diskusi intens tentang bagaimana melindungi generasi muda dari ancaman digital sekaligus memberdayakan proses belajar di era kecerdasan buatan. Dalam berbagai sesi, pembicara menegaskan bahwa kini “jadi judgmental” diperlukan untuk menyaring konten, teknologi, dan praktik yang bisa merugikan anak.

Meskipun keynote yang dijadwalkan tidak dapat hadir karena dipanggil ke sidang parlemen terkait insiden penembakan dan dampak platform digital pada anak, rangkaian pembicaraan lain tetap memberikan berbagai perspektif dari sektor pemerintahan, pendidikan, teknologi, hingga kesehatan dan audit.
Risiko AI bagi keselamatan dan privasi anak
Angelo Tapales, pejabat Kementerian terkait kesejahteraan anak, mengingatkan bahwa meski AI menawarkan manfaat besar untuk pendidikan, teknologi ini juga membawa risiko serius bagi anak. Ancaman yang disebut meliputi pelecehan seksual online, perundungan siber, pelanggaran privasi, serta ketergantungan berlebihan pada perangkat digital yang dapat mengikis kemampuan berpikir kritis.
Tapales mencatat bahwa sejumlah peraturan dan kebijakan pendidikan saat ini sudah memberikan kerangka perlindungan—seperti langkah anti-bullying, pembentukan komite perlindungan anak, dan protokol keselamatan sekolah. Selain itu, pedoman baru mendorong penggunaan AI yang bertanggung jawab, etis, dan berfokus pada manusia serta melarang aplikasi yang berisiko bagi privasi dan keselamatan anak, termasuk pengenalan wajah dan sistem penilaian sosial. Tantangan utamanya adalah memastikan penerapan aturan tersebut secara konsisten di sekolah negeri dan swasta agar manfaat AI dapat dirasakan tanpa mengorbankan keamanan, privasi, dan kemampuan berpikir kritis siswa.
Waktunya jadi judgmental dalam penggunaan AI
Konten kreator pendidikan juga memperingatkan agar siswa tidak menjadikan AI sekadar mesin pemberi jawaban. Satu studi yang dikemukakan menyebut pengguna AI menyelesaikan PR lebih cepat dan mendapat nilai tugas yang lebih tinggi, namun hasil ujian mereka justru lebih rendah. Hal ini menegaskan perlunya sikap selektif dan pengawasan: mengandalkan AI tanpa verifikasi dan pemahaman dapat merusak proses pembelajaran jangka panjang.
Grooming online, peran orang tua, sekolah, dan platform
Ketua organisasi profesi keamanan siber mengangkat isu serius tentang praktek grooming yang terjadi sistematis melalui platform permainan, media sosial, dan komunitas digital tertutup. Menurutnya, pelaku membentuk jaringan yang mencari korban anak, membangun kepercayaan, mengisolasi mereka dari keluarga, lalu memperkenalkan unsur paksaan, self-harm, atau kekerasan. Meskipun hubungan antara jaringan seperti ini dan beberapa insiden kekerasan di sekolah masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut, pemicu itu dianggap cukup mengkhawatirkan untuk memperkuat kerja sama antar-penjaga anak: orang tua, sekolah, penyedia platform, dan aparat penegak hukum.
Pencegahan yang diusulkan termasuk pengawasan orang tua, pengamatan perubahan perilaku anak, serta pengaturan akses perangkat dan waktu bermain game. Sekolah dan orang tua diminta aktif berkomunikasi dan membentuk kebiasaan digital sehat pada anak agar potensi bahaya dapat dideteksi sejak dini.
Peran kreator konten, pendidikan nutrisi, dan etika profesional
Beberapa pembicara dari kalangan kreator pendidikan menyoroti peluang sekaligus hambatan produksi konten yang kredibel di platform seperti TikTok. Platform singkat membuat akses belajar lebih luas bagi kalangan yang sulit menjangkau pendidikan formal, namun pembuatan materi berkualitas menuntut riset, biaya produksi, dan kontinuitas yang tidak mudah dipertahankan. Jika kreator bertanggung jawab tidak tampil, informasi yang bermanfaat bisa tenggelam oleh misinformasi atau konten rendah mutu.
Forum ini menegaskan bahwa kombinasi kebijakan, pendidikan literasi digital, pengawasan orang tua, serta tanggung jawab kreator dan penyedia layanan merupakan langkah krusial. Mendorong generasi muda untuk kritis dan selektif—atau dengan kata lain, menjadi judgmental secara tepat—dipandang sebagai tindakan preventif penting untuk melindungi anak dari risiko di dunia digital sekaligus memaksimalkan manfaat teknologi dalam pendidikan.



